MENGENALI HUBUNGAN KARMIC

Hubungan karmic mungkin istilah yang belum banyak diketahui.
Secara garis besar ini adalah hubungan yang terpengaruh dari jejak dan ikatan karma.
Karma terjadi karena perbuatan-perbuatan dan pikiran-pkiran  yang timbul dari diri kita sendiri.

Hubungan karmic biasanya sifat awalnya menggebu2 dan penuh gairah. Tapi juga penuh intrik dan konflik.

Hubungan karmic biasanya berpusat pada tiga chakra pertama (ego).

Ciri-cirinya adalah:

CODEPENDENCY
KONTROL
VIKTIMISASI
MENYALAHKAN
RASA SAKIT EMOSIONAL

Contoh kasus:

1. Orang yang berkata “Saya tidak akan pernah percaya pria atau wanita lagi.” Hal ini akan menarik orang orang yang tidak bisa dipercaya. Akibatnya akan mewujudkan lingkaran karma “terus menerus dikhianati”.
2. Orang yang “sangat takut untuk ditinggalkan”, akan menarik orang orang yang memiliki masalah “komitmen”.

Seringkali dalam hubungan kita membuat janji dengan orang yang kita cintai. Hal ini menciptakan “ikatan karma” dari janji yang terucap maupun tidak terucap.

Apabila janji itu tidak bisa dipenuhi dalam kehidupan ini, maka orang tersebut akan terus datang dalam kehidupan kamu yang lain, sampai ikatan / Hubungan / kontrak karma ini benar benar dilepaskan atau diselesaikan.
Selama belum diselesaikan, kamu akan terus mengalami “repeating pattern/cycle”.

Ingat, dua orang hanya bisa bersama dan tetap bersama jika mereka memiliki frekuensi yang sama / identik.
Ada hukum law of Attraction di sini.

Kalau kamu sudah menyadari bahwa kamu terlibat dalam hubungan kamic, dan ingin terbebas dari hubungan tersebut, satu-satunya yang bisa menyelamatkan kamu adalah diri kamu sendiri.
Dengan cara menaikkan Vibrasi dan frekuensi diri.

Jadilah pribadi yang utuh, yang memiliki Unconditional love terhadap diri sendiri.

Do your inner work healing!

VALIDASI

Sebegitu pentingkah validasi dari orang lain?
Banyak hal yang ditakuti.

Seorang perempuan yang mengalami KDRT ragu-ragu untuk meninggalkan suaminya karena takut.

Seorang wanita yang hamil diluar nikah takut untuk tetap mempertahankan bayinya.

Seorang wanita berusaha mati2an untuk tampil cantik karena takut.

Seorang wanita menuruti semua kemauan suaminya karena takut.

Takut…

Bagaimana nanti hidupku kedepannya?
Apa nanti bisa menghidupi anak2 sendiri?
Takut dibilang jelek dan ga menarik
Takut dibilang bukan istri yang baik
Apa nanti kata tetangga?
Gimana kalo orang tua merasa kecewa?
Nanti jadi omongan masyarakat
Dll….

Takut…

Semua ketakutan itu ada di dalam pikiran kita..

Tapi apakah betul bahwa semua yang ada di dalam pikiran kita itu benar2 berasal dari kita sendiri?
Ataukah itu semua karena pengaruh dari luar, suatu hal yang terkondisikan sedari kita kecil….?

Gak pernah bosen2 gw mengulang2 hal ini:

“DO YOUR OWN SHADOW WORK!”
“DO YOUR OWN INNER CHILDHOOD TRAUMA!”

In order to become A WHOLE.

Validasi dari luar itu ga ada artinya, kalo ga ada validasi dari diri sendiri!
Mau dapet seberapa banyak validasi dari luar, tetep aja akan berasa kosong kalo kamu sendiri ga tau siapa dirimu yang sebenernya.

Learn about yourself, know who you really are.

Dari situ kamu tidak akan terpengaruh oleh omongan dan pemikiran orang lain.

ANXIOUS ATTACHMENT-kah Dirimu?

Pernah dengar istilah attachment?
Kemelekatan, bahasa Indonesianya….

Attachment bisa terhadap apa saja, bukan hanya terhadap manusia.
Bisa attachment terhadap barang, uang, binatang dll.

Kl bicara soal attachment, lagi2 ga bakalan jauh dari masa, pengalaman (atau) trauma masa kecil kita…. INNER CHILD.

Iya, lagi2 ke situ kan….ga aneh sih…

Ada tiga jenis Love Attachment:

1. Anxious
2. Avoindant
3. Secure

Kali ini mau bahas khusus tentang Anxious Attachment ya…

Tipe ini sangat gampang untuk memberi cinta, pengakuan dan validasi terhadap pasangannya. Tapi kebalikan untuk dirinya sendiri.

Biasanya ini muncul akibat hubungan masa kecil kita dengan orang tua.

Ada orang tua yang “tidak konsisten” dalam pola pengasuhan sehingga menimbulkan kebingungan bagi si anak (diri kita). Kadang perhatian kadang tidak.

Sebab lain juga adalah karena orang tua kita mempunyai “emotional hungers”, membuat kedekatan emosi ataupun fisik demi kepuasan mereka sendiri (posessif & over protective).

Ciri-ciri tipe Anxious Attachment:

• Mempunyai kecenderungan/berusaha keras untuk menarik pasangannya untuk jadi lebih dekat.
• Haus akan perasaan cinta (Craved Love).
• Menginginkan “Reassurance” bahwa pasangannya mencintai dia.
• Kadang tampak “menuntut”.
• Memiliki ketakutan bahwa pasangan akan meninggalkannya.
• Akan melakukan apapun untuk pasangaannya >>>> biasanya hal ini justru akan membuat pasanganya jadi menjauh.
• Mempunyai pikiran bahwa “I’m not worthy”~>core beliefs

 

Dalam Anxious Attachment ada yang disebut “Protest Behaviour”.

Tujuannya untuk mendapatkan “cinta” atau perhatian seperti yg diinginkan.
Ada usaha2 yg dilakukan untuk mendapatkan atau mengukuhkan koneksi.

Misalnya:

– Mengirim text terus menerus
– Menarik diri/withdrawing (untuk mencari perhatian).
– Timbal balik.
– Mengancam untuk meninggalkan pasangan
– Memanipulasi untuk membuat pasangannya cemburu

*************

Kenapa gw bikin tulisan ini?

Lagi-lagi sebenernya karena ingin orang2 yg sedang kebingungan kenapa hubungannya ga pernah berjalan mulus bisa mengerti tentang dirinya sendiri atau pasangannya.

When you get to know more about yourself, you’ll open up many doors to get close to your own happiness !

Karena kebahagiaan diri itu bukan didapat dari orang lain, tapi dari dalam dirimu sendiri.

My-thoughts-Chiaki-Asaari
KDRT – DOMESTIC ABUSE

 Perasaan gw waktu nanganin client yang ngalamin KDRT?
Jelas sedih lah liat nya…
Kesel juga…kesel banget malah !

Kalo untuk yang pny masalah di komunikasi, itu masih ada harapan untuk diperbaiki, masih banyak jalan yg bisa ditempuh.
Terapi, konseling dll.
Dan banyak client gw jg yg udah berhasil ngelewatin ini.

Trus kalo KDRT – Kekerasan Dalam Rumah Tangga….?

KDRT itu bukan hanya physical abuse..tapi juga verbal abuse.

Jika ada ucapan2 yang bernada ancaman, pelecehan, penghinaan dan semua yang menyebabkan timbulnya rasa TIDAK NYAMAN & TIDAK AMAN, itu udah termasuk verbal abuse.
Yang di abuse apanya?
MENTAL NYA!

“Halaaahhh, kan cuma ucapan doang…!!”
Gitu biasanya orang2 sekitar kita ngomong.

NO IT’S NOT!!

Ingat, apabila kesehatan mental kita drop, otomatis fisik kita juga ikut drop!

Apalagi kl udah ada kekerasan fisik.

IT’S A BIG NO!!!

Dalam menangani client yg terjebak dalam KDRT yg bersifat physical,

Gw cuma punya satu saran….

TINGGALIN!
KELUAR DARI SITUASI TERSEBUT!
NO OTHER CHOICE!!

Bukan hanya sekedar saran, tapi gw juga bakal hubungin ke pihak2 yang bisa ngelindungin dan menghandle kasusnya.

Banyak yang takut untuk keluar dari pernikahannya yang sebenernya udah termasuk toxic.

Takut ini-itu…
Takut nanti gimana kalo begini-begitu…
Ga mau keluar krn kasian anak…
Gapapa sy disiksa asal anak bahagia pny
keluarga yang utuh…
Semua saya lakukan demi anak…
Tuhan membenci perceraian…

Perceraian memang dibenci Allah, tapi tidak dilarang.
Tuhan juga MELARANG mahluknya menyakiti diri sendiri.

Kalo kamu membiarkan orang lain menyakiti diri kamu, tandanya kamu sudah menyakiti diri sendiri!

Kalo setiap hari ribut lempar2an gelas, piring, vas bunga,…emang anaknya dijamin bahagia?

Kalo setiap hari minum2 sampe mabuk…emang anaknya bakal tumbuh jadi manusia yang ga bermasalah dan ga pny trauma inner child?

Nah, terus kl dirinya akhirnya sakit2an, lumpuh, gila….terus siapa yg mau ngurus anak???

Nanti kalo cerai anak saya jadi anak broken home…
Nanti anak saya jadi anak ga bener, pecandu…

Hey honey, kalo kamu bisa untuk TIDAK menaruh dirimu dalam “self pity” dan bisa tetap menjadi orang yang kuat, kamu akan bisa menjelaskan dan berkomunikasi juga menjaga hubungan baik kamu dengan anak kamu.

Sehingga anak kamu tidak akan terjebak dalam stereotype “anak korban perceraian”.
Trust me on this!

“Don’t let people who suppose to protect you, hit you and abuse you instead!!”

HITTING IS NOT LOVE! – ABUSING IS NOT LOVE!

If you don’t want to be a victim. Do something. And if you don’t want to do anything. Stop complaining.

I and also other people can’t help you, if you don’t want to help yourself…

Chiaki-Asaari-KDRT
EROTOMANIA

Pernah denger kasus pasien yang jatuh cinta dan terobsesi sama dokternya?
Atau murid terhadap pembimbingnya?
Atau seorang penggemar terhadap idolanya?

Bukan obsesi… Ini lebih daripada obsesi..

Dulu pernah baca buku psikologi Sybil. Seorang wanita yang punya 16 kepribadian yg terpecah.

Penelitian terakhir membuktikan bahwa ternyata Sybil tidak mengalami D.I.D (split/multiple personality).
Tapi dia justru mengidap erotomania terhadap psikiaternya.

Erotomania adalah sindrom delusi yang membuat seseorang percaya bahwa orang yang dicintainya juga memiliki perasaan yang sama.
Dikenal juga sebagai sindrom de Clerambault.

Orang yang menjadi objek kasih sayang pengidap erotomania, umumnya adalah sosok yang lebih tua (guru, pembimbing, coach, pelatih, dokter, motivator dll).

Biasanya pengidap erotomania akan melakukan berbagai tindakan khas yang meliputi:

• Adanya keyakinan atas delusi yang dimilikinya bahwa idolanya jatuh cinta, atau bahkan telah memiliki hubungan khusus dengan mereka.
• Mengirimkan pesan, hadiah, maupun panggilan telepon kepada “the object of affection” nya.
• Berusaha berkontak dengan idolanya dg berbagai cara (telepon, surat, text/voice messages, tagging sosial media dll)
• Menguntit (stalking)
• Cemburu jika ada orang lain yang dekat dengan idolanya.
• Kehilangan minat dalam melakukan kegiatan lainnya. Cenderung lebih sering menghabiskan waktunya untuk memikirkan dan membicarakan tentang orang yang dianggap mencintainya.
• Sangat yakin bahwa orang yang mencintainya, seolah sedang mencoba untuk berkomunikasi secara rahasia melalui pandangan, gerak-gerik, atau berupa status dalam media sosial.

Pengidap erotomania sangat menyukai perhatian yg didapat dari idolanya. Krn itu biasanya mrk akan terus berpura2 sakit/sedih/memiliki masalah demi mendapatkan perhatian.

Itulah yg dilakukan oleh Sybil.
Dia membuat seolah2 kepribadiannya terpecah.
Setiap kali waktunya konsultasi, akan ada karakter/kepribadian baru yg dimunculkan.

Semuanya dilakukan hanya agar bisa lebih sering bertemu dan membangun koneksi dengan psikiaternya.

Apa gue pernah ngalamin hal ini?
Hampir….

Makanya gue gak mau attach sama klien-klien gue utk urusan pribadi.

Cukup konsultasi di jam yg ditentukan dan hanya membahas permasalahan yg berkaitan.

Diluar itu sih….harus tetap ada boundaries.

Chiaki-Asaari-thoughts

Pin It on Pinterest