BALI-selamat-COVID-19

Ditulis oleh: Dominik Vanyi

BALI SELAMAT DARI COVID-19 – KENAPA BEGITU?

Sampai hari ini dampak dari virus SARS-COV-2 di Pulau Bali dirasa relatif kecil. Sejauh ini hanya ada LIMA kasus kematian yang terjadi sejak perhitungan dimulai.

Tidak diketahui berapa orang yang sebenarnya terinfeksi atau pernah terinfeksi, karena di Bali kurang dari 1 per 10.000 orang yang sudah di test.

Selama bulan Mei dan Juni, angka kematian akibat virus Korona di Bali hanya bertambah 1 orang.

Dan meskipun angka-angka tersebut tidak akurat, dan angka sesungguhnya bisa 2 atau 3 kali lebih tinggi, tetap saja lebih rendah dibandingkan bagian lain di dunia.

Setelah saya menerbitkan artikel pertama mengenai ‘Bali COVID-19 miracle’, beberapa orang menyatakan bahwa pasti ada sesuatu didalam makanan mereka.

Dan dugaan mereka tepat. Yah, hampir…

Selanjutnya saya akan menjelaskan kenapa Bali selamat dari dampak COVID-19 dan pelajaran apa yang bisa diambil dari Bali.

 

Bagaimana kabar Bali dan Indonesia selama pandemi ini?

Angka kematian akibat COVID-19 agak rendah ketika menempatkan Indonesia dalam konteks populasi yang sebesar hampir 270 juta orang.

Ketika kita membandingkan berapa banyak orang di Indonesia mati gara-gara COVID-19 dengan negara lain seperti AS, Inggris, Spanyol atau Italia maka dapat dilihat bahwa mereka memiliki 50 hingga 80 kali lebih banyak orang meninggal akibat COVID-19 (kematian per juta penduduk).

Jadi wajar untuk mengatakan bahwa dengan sedikit pengecualian COVID-19 hanya mendatangkan malapetaka di negara berkembang. Sebenarnya hanya di Dunia Barat. Karena bahkan di Cina, dari mana virus berasal, memiliki jumlah yang relatif rendah juga.

Mari kita kembali ke Asia Tenggara

Yang paling mengesankan adalah Vietnam. 95 juta penduduk dan NOL angka kematian COVID-19.

Dan dengan Vietnam, kita dapat melihat hubungan antara makanan penduduk setempat dan tingkat kematian COVID-19 dengan sangat jelas.

Ketika kita membandingkan tingkat obesitas di 190 negara secara keseluruhan, Vietnam memiliki tingkat obesitas terendah di dunia. (Source: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_obesity_rate )

Obesitas bukan hanya sedikit lebih lebar di sekitar pinggang. Obesitas itu benar-benar gendut.

 

Bali-diiet-obesity

 

Anda coba tebak negara mana punya peringkat teratas dari obesitas.

Amerika Serikat lagi… Penduduknya mereka paling banyak mengidap obesitas. Lebih dari 40% populasi di AS mengalami obesitas. Dan sebanyak 70% kelebihan berat badan.

Tidak mengherankan jika Amerika Serikat juga berada di peringkat teratas untuk semua penyakit terkait dengan gaya hidup.

Kanker, penyakit jantung, kekurangan vitamin, Diabetes Tipe-2, alergi dll. Paman Sam selalu berada di posisi teratas.

Dan sekarang kita kaitkan dengan COVID-19. Terutama tingkat kematian.

Populasi Indonesia: 268 juta orang yang merupakan 3,6% dari populasi dunia.

Populasi Amerika Serikat: 328 juta orang yang merupakan 4,6% dari populasi dunia.

Indonesia memiliki 0,4% dari angka kematian COVID di seluruh dunia. Sedangkan A.S. memiliki lebih dari 28% angka kematian Korona di seluruh dunia.

Bravo Paman Sam! 😉

COVID-19-KEMATIAN-INDONESIA

Ini bukan karena Social Distancing, Masker atau Lockdown.

Ada perdebatan sengit di seluruh dunia mengenai seberapa efektif masker wajah, social distancing, dan tindakan lainnya. Langkah-langkah itu mungkin berdampak pada penyebaran virus… Namun ada konsensus luas di komunitas ilmiah bahwa dampak langkah-langkah itu terbatas.

Di New York misalnya, lebih dari 60% infeksi baru terjadi ketika kota itu sudah di lock-down selama lebih dari 2 minggu. Fenomena yang sama juga terjadi di beberapa negara di Eropa.

Di sisi lain, negara-negara seperti Taiwan dimana kehidupan selama pandemi benar-benar tidak menerapkan lock-down dan minim social distancing, dampak COVID-19 juga sangat rendah.

Maka kita harus menerima kenyataan bahwa intervensi buatan manusia seperti pemakaian masker, social distancing dan lock-down bukanlah faktor utama yang membuat dampak penyakit terasa beda di negara masing-masing. 

Harus ada faktor lain.

Para pakar juga telaj prediksi bahwa negara-negara dan wilayah-wilayah seperti India dan Afrika yang memiliki infrastruktur kesehatan yang agak kurang dan di mana lock-down dan langkah-langkah lain sulit dilaksanakan, akan sangat terpengaruh oleh pandemi tersebut.

Tapi itu tidak terjadi! Dan tidak akan terjadi!

Lagi kita lihat angka-angkanya. Sebagai contoh: India dengan 1,35 miliar orang memiliki lebih sedikit kematian COVID-19 dibandingkan Belgia dengan populasi 11,5 juta orang. Aneh toh…

Jadi sekarang, anda mengerti bahwa bukan social distancing, masker dan lock-down yang menentukan hasil pandemi pada populasi suatu negara atau wilayah.

Jadi apa dong?

 

 

Diet Bali sistim imun

Nasi Babi Bali | Food d styling: DIAH SETIANINGRUM / Photography: DOMINIK

 

Ini tentang seberapa kuat dan sehat sistem imun anda.

Sebelum melihat ke dalam pola makan Bali kita perlu memahami dampak dari makanan yang kita makan pada kesehatan kita. Terutama bagaimana makanan mempengaruhi reaksi tubuh kita terhadap virus.

Ini merupakan fakta yang tidak bisa dibantah bahwa apakah kita terinfeksi oleh virus corona atau virus lainnya dan seberapa sakit kita, semuanya tergantung 100% pada kekebalan tubuh kita.

Sementara itu, nampak sekali bahwa selain orang berusia di atas 80 tahun adalah orang yang memiliki penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup seperti Diabetes-Tipe-2, Penyakit jantung, berbagai jenis kanker dan terutama OBESITAS yang memiliki risiko komplikasi yang jauh lebih tinggi terkait dengan COVID -19.

Ingatlah bahwa lebih dari 99% kasus dimana seseorang yang terinfeksi virus ini tidak memiliki gejala sama sekali atau hanya memiliki gejala ringan seperti flu.

Jadi jika kesehatan kita baik-baik saja virus ini bukan merupakan ancaman. Anda mungkin akan sakit sedikit. Dan sakitnya akan berlalu dalam beberapa hari. Atau paling seminggu lebih.

Dan faktor terpenting yang menentukan bahwa anda sehat dan memiliki sistem imun yang baik ditentukan oleh apa yang anda makan.

Anda gak percaya?

Komunitas medis setuju dan statistik mengkonfirmasi bahwa makanan yang buruk membunuh lebih banyak orang daripada merokok, minum alkohol, dan tidak berolahraga.

( Video singkat dari BBC tentang dampak dari pola makan yang buruk)

Oleh sebab itu melihat pola makan masyarakat Bali bisa jadi ide yang bagus…

 

 

Sistim Imun Bali

NASI AYAM BALI | Food styling: DIAH SETIANINGRUM / Photography: DOMINIK

 

Jadi apa yang dimakan orang Bali dan apa keistimewaannya?

Jawaban yang sejujurnya adalah:

👉 Bukan apa yang dimakan oleh orang Bali…namun apa yang TIDAK DIMAKAN oleh mereka.

Jika kalian berharap untuk mendapatkan dari artikel ini daftar ‘makanan ajaib’ yang unik dari Bali, kalian akan kecewa.

Karena kesuksesan dari pola makan masyarakat Bali lebih banyak tentang tidak adanya ‘makanan buruk’.

Saya juga ingin menyatakan bahwa saya tidak bermaksud mengagungkan masakan Bali sebagai masakan yang ajaib.

Karena studi saya tentang kesehatan gizi dan diet telah mengajarkan saya untuk mencurigai segala macam diet ajaib atau mode gizi.

Saya juga ingin memperjelas bahwa tidak ada diet Bali yang homogen. Karena sekitar 30% orang yang tinggal di Bali berasal dari luar pulau Bali dan mengkonsumsi makanan yang berbeda.

 

 

makanan Bali sehat

BAHAN-BAHAN MASAKAN BALI | Food styling: DIAH SETIANINGRUM / Photography: DOMINIK

Detil dari ‘Pola Makanan Sehat Bali’

Hampir semua hal yang akan saya sampaikan mengenai masakan tradisional Bali berlaku juga untuk masakan tradisional di tempat-tempat seperti Vietnam, India, dan sebagian Afrika.

Pokoknya bukan negara industri.

Manfaat kesehatan utama dari masakan tradisional Bali dapat disimpulkan dalam satu kalimat saja.

👉 Tidak adanya makanan olahan. 👈

Apa itu makanan olahan (processed food)?

Makanan olahan adalah segala sesuatu yang anda beli dalam bungkusan yang memiliki keterangan kandungan nutrisi yang tercetak di bungkusnya.

Atau definisi lain: Semua makanan yang tidak ada 60-70 tahun yang lalu. Kurang lebih setiap makanan yang dimakan kakek dan nenek buyut-mu. Itu adalah makanan yang aman dikonsumsi dan bukan makanan olahan.

Gitu aja sih. Gak ribet kok.🙂

Namun ada faktor lain dalam nutrisi Bali juga yang berperan.

Misalkan dalam makanan tradisional Bali tak ada produk susu (dairy). Soalnya riset terkini menunjukan bahwa konsumpsi susu dan produk terbuat dari susu tidak terlalu baik.

Satu faktor lagi yang positif adalah bahwa dalam masakan tradisional Bali tidak ada produk gandum. Berarti tidak ada roti, tidak ada pasta (mie) dan kue-kuean yang terbuat dari gandum.

Terakhir, konsumpsi kentang sangat rendah.

Sekarang mari kita teliti makanan tradisional Bali.

 

Buah-buahan dan Sayur-sayuran di Bali

Dalam hal mengkonsumsi sayuran, masakan Bali sangat mirip dengan masakan lainnya di Asia Tenggara. Dan dalam pengamatan saya, Bali mungkin lebih rendah dalam hal mengkonsumsi sayuran. Tetapi masih cukup untuk dianggap seimbang & sehat.

Ketika kita mengalihkan perhatian kita pada buah-buahan, menghasilkan pengamatan yang sangat menarik.

Di Bali konsumpsi buah-buahan sangat tinggi. Dan ini sebabnya:

Dalam budaya Bali, pendorong utamanya adalah agama Hindu. Koneksi ke agama dalam praktik ibadah Bali adalah persembahan/sesajen.

Salah satu hal yang menarik adalah dalam upacara keagamaan besar, sangat penting persembahan dilakukan kepada para Dewa. Dan sebagian besar dari persembahan itu terdiri dari buah-buahan. Lihat saja foto berikut.

 

Makanan tradisional Bali

 

Dan jangan salah, meskipun persembahan itu untuk para Dewa sebagian besar akhirnya dimakan oleh manusia. Setidaknya buah-buahan yang tidak dikonsumsi atau diambil oleh para Dewa. 😉

Saya juga mengamati pada saat berkunjung ke teman saya orang Bali, seringkali mereka menyuguhi buah-buahan kepada tamu.

Saya beruntung pernah melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia dan ke daerah-daerah terpencil dan jauh. Tetapi tidak pernah saya melihat orang makan begitu banyak buah-buah seperti di Bali.

Manfaat nutrisi dan kesehatan buah-buahan sudah dikenal luas. Dan konsumsi buah yang lebih tinggi umumnya akan berpengaruh pada sistem imun yang lebih kuat.

 

 

Nutrisi Bali DOMINIK

BALINESE SPICES | Food styling: DIAH SETIANINGRUM / Photography: DOMINIK

 

Bumbu dan rempah-rempah Bali

Masakan Bali menggunakan banyak bumbu dan rempah-rempah yang sudah dikenal khasiatnya. Antara lain adalah:

Kunyit | Jahe | Cengkeh | Biji buah Pala dan masih banyak lagi.

Tapi jangan salah. Tak satupun dari spesies itu adalah ‘makanan ajaib’. Tetapi jika dikombinasi dengan pilihan makanan sehat lainnya, sangat bermanfaat.

Masakan tradisional Bali juga banyak menggunakan serai dan ketumbar (biji dan daun). Keduanya juga mempunyai manfaat kesehatan yang telah dibuktikan.

 

 

Minyak Kelapa Bali

MINYAK KELAPA BALI | Food styling: DIAH SETIANINGRUM / Photography: DOMINIK

 

Minyak masak Bali

Secara tradisional masyarakat Bali menggunakan minyak kelapa untuk memasak. Dan banyak penelitian telah menunjukkan bahwa minyak kelapa adalah pilihan yang lebih sehat jika dibandingkan dengan minyak biji seperti jagung, kedelai, bunga matahari, kanola dan minyak lainnya.

Jadi jika ada sesuatu yang ingin anda adopsi dari dapur Bali, itu adalah minyak kelapa. Selain minyak zaitun, minyak kelapa adalah minyak terbaik untuk dipakai.

Sayangnya penggunaan minyak kelapa di Bali sedang menurun. Hal ini disebabkan karena harganya yang lebih mahal. Dan juga karena tekanan dari industri makanan yang mempromosikan minyak yang jauh kurang sehat seperti minyak kelapa sawit.

Konsumsi Daging (dan ikan) di Bali

Soal konsumsi daging di Bali juga menarik. Pertama, orang Bali makan lebih sedikit daging daripada di negara industri. Suatu hal yang baik!

Konsumsi ikan di kalangan orang Bali relatif rendah, terlepas dari garis pantai panjang Bali. Lagi-lagi ini ada hubungannya, paling tidak sebagian, dengan kepercayaan agama. Karena bagi penganut Hindu Bali, laut memiliki asosiasi yang lebih negatif.

Agama juga yang menyebabkan konsumsi daging sapi di Bali sangat rendah. Sebab sapi mempunyai peranan yang suci dalam agama Hindu. Oleh karena itu tidak boleh dimakan.

Itu membuat orang Bali kebanyakan makan ayam dan babi, dan pada tingkat lebih rendah kambing, sebagai sumber protein hewani. Ini adalah berita yang sangat bagus, terutama ketika kita membahas daging babi.

Ini alasannya.

Sebagian besar daging babi adalah daging non-industri. Bisa dibilang ‘babi organik’.

Daging babi yang dikonsumsi oleh orang Bali kebanyakan dibesarkan di peternakan kecil.

Faktanya, sangat sulit menemukan daging babi di pasar tradisional. Karena dalam masyarakat agraris Bali banyak keluarga memiliki peternakan kecil babi untuk dikonsumsi sendiri.

Dan babi di Bali makan apa yang seharusnya dimakan babi. Tidak seperti yang dimakan oleh hewan ternak industri yang memiliki berbagai macam efek buruk bagi kesehatan manusia.

Penduduk di pedesaan Bali juga memiliki setidaknya beberapa ayam kampung. Jadi mereka juga mengkonsumsi lebih banyak ‘ayam organik’.

Sayangnya karena relatif mudah didapat, ayam industri yang diberi makan dengan segala macam ‘makanan jelek’ sedang meningkat.

Intinya, daging yang paling banyak dikonsumsi orang Bali memiliki nilai gizi lebih tinggi daripada ‘daging industri’. Yang bermanfaat bagi sistem imun tubuh.

 

 

Makanan tradisional Bali

MANIS-MANISAN BALI | Food styling: DIAH SETIANINGRUM / Photography: DOMINIK

 

KESIMPULAN

Bali telah selamat dari pandemi COVID-19. Ini terutama karena sistem imun penduduk lokal lebih sehat dan lebih kuat daripada penduduk di negara industri.

Masa depan tampaknya tidak terlihat cerah bagi pola makan tradisional Bali.

Dengan meningkatnya konsumsi ‘makanan pabrik’ yang tidak sehat, obesitas semakin meningkat. Seperti kebanyakan negara berkembang, Indonesia mengalami peningkatan tajam dalam penyakit terkait gaya hidup yang sebenarnya dapat dicegah.

Hal ini berpotensial membunuh jauh lebih banyak orang daripada COVID-19.

Lihat saja semua toko kecil di Bali yang terletak dekat dengan sekolah dasar. Sepulang sekolah, anak-anak berduyun-duyun ke toko itu untuk membeli makanan manis produk olahan.

Dan juga, outlet junk food di Mall-mall di Bali selalu penuh dengan pengunjung.

Namun saya ingin mengakhiri dengan catatan positif.

Salah satu hasil yang baik dari pandemi global COVID-19 adalah meningkatnya kesadaran mengenai masalah kesehatan secara umum dan nutrisi pada khususnya. Ada kemungkinan bahwa orang Bali yang selalu berusaha untuk hidup seimbang dan harmonis tidak akan jatuh cinta pada makanan Barat dan tetap dengan masakan mereka sendiri yang sehat dan lezat.

Om Swastyastu — DOMINIK

Follow me on INSTAGRAM | Meet me on FACEBOOK

Kalau anda mau mendaptkan lebih banyak informasi mengenai nutrisi dan hidup sehat silahkan berlangganan di NEWSLETTER saya.

2 Komentar

  1. Wayan wiwikarisandi

    Saluttt bapak….dan saya bangga jadi orang bali
    Trimakasih sudah bikin tulisan ini…semoga masyarakat bali lebih semangat menjaga tradisi bali.dan bali slalu save…

    Balas
    • Chiazongo

      Suksema berat Wayan!!!

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Shares
Share This